Babussalaam

Haji adalah salah satu dari lima rukun islam.

Sebagaimana hadits Rasulullah SAW bersabda:

Buniya islamu ala khomsin, syahaadatun alla ilaaha illallahu wa anna muhammadan rasuulullah, wa iqaamush-shalaah, wa iitaa uzzakaah, wa hijjul baiti manistathoaa ilaihi sabiila, wa shiyamu ramadhan;

Dibangun dimensi islam itu atas lima pilar utama:

yang pertama: Syahadatain, yakni sebuah pengakuan hamba pada Tuhannya, bahwasanya tidak ada Tuhan yang hak yang patut disembah kecuali Allah SWT dan mengakui Muhammad SAW sebagai utusanNya yang membawa risalah terakhirNya sebagai petunjuk bagi semesta alam dan seisinya.

Yang kedua: Menegakkan Shalat, yang dengan itu sebagai media untuk mencegah perbuatan keji lagi mungkar.

Yang ketiga: Mengeluarkan sebagian harta untuk zakat, yang manfaatnya untuk kesejahteraan sosial, kepedulian antar sesama, serta membersihkan harta dan jiwa.

Yang keempat: Menunaikan Ibadah Puasa, sebagai wasilah untuk mengekang hawa nafsu yang tidak mampu ditolerir.

Yang kelima: Menunaikan ibadah haji bagi yang mampu melakukan perjalanan, sebagai wujud jihad napak tilas apa yang dahulu dilakukan oleh para Nabi dan Rasul. Lima hal ini sebagai pondasi, tiang, dinding, rusuk dan atap yang menjamin soliditas sebuah bangunan islam agar berdiri kokoh dalam jiwa setiap muslim dan mukmin.

Tunai haji juga ditekankan oleh Al-Quran, sebagaimana Allah berfirman dalam QS.Ali Imran: 97 : Walillahi alannaasi hijjul baiti manistathaa ilaihi sabiilaa, waman kafara fainnallaha ghaniyyun anil aalamiin; Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu apapun) dari semesta alam.

Begitu mulianya perintah berhaji maka perlu dicermati bahwa calon jemaah haji & umrah harus mengetahui bekal yang harus dibawa, Diantara bekal tersebut adalah:

Pertama:

Jika seorang muslim sudah berazam (memantapkan diri) untuk berhaji atau umrah, maka hendaknya ia memberi nasihat yang baik dan wasiat yang luhur untuk keluarga dan sahabat, dan handai taulan serta tetangga dekatnya untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu: mengerjakan apa yang telah menjadi perintahNya, dan menjauhi apa yang dilarangNya. Sebagaimana Allah swt berfirman: Ya ayyuhalladziina aamanut-taqullaha haqqa tuqaatihi walaa tamuutunna illa wa antum muslimuun; Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati (meninggal dunia) sedangkan kamu tidak dalam keadaan Islam (QS.Ali Imran:102).

Kedua:

Hendaknya orang yang berangkat haji tidak meninggalkan hutang. Sehingga hutangnya kelak tidak menjadi beban bagi keluarga yang ditinggalkannya di tanah air, manakala hutang tersebut telah mendekati jatuh tempo. Dan jika ternyata memang masih ada hutang, dan belum sempat membayarnya, hendaknya mengambil beberapa saksi bahwa keberadaan dirinya masih terlibat hutang, dan menuliskannya sebagai kesaksian hitam di atas putih, meskipun kadar hutang tersebut terbilang kecil. Sebagaimana Allah swt berfirman: Ya ayyuhalladziina aamanuu idza tadayantum bidainin ila ajalin musamma faktubuuh; Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya (QS.Al-Baqarah:282).

Ketiga:

Menjadi kewajiban baginya untuk segera melakukan taubat nasuha dari berbagai dosa yang telah dilakukan. Sebagaimana firman Allah dalam QS.An-Nur: 31: Wa tuubu ilallahi jamiian ayyuhal mukminuuna laallakum tuflihuun; Dan bertaubatlah kepada Allah kamu sekalian semuanya wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.

Adapun hakikat taubat, adalah melalui tiga tahapan;

Tahap pertama: Menyudahi diri dari kesalahan yang telah diperbuat (maksiat), Tahap Kedua: Menyesali atas segala kesalahan dan dosa yang pernah dilakukan. Tahap Ketiga: Berazam (meyakinkan diri) untuk tidak mengulangi dan terperosok pada kesalahan yang sama selamanya.

Sebagaimana dari Abi Hurairah berkata, bersabda Rasulullah saw: Man kaanat lahu madzhlamatun li akhiihi min arodhihi aw syaiun falyatahallalhu minhul yawmu qabla anlaa yakuuna diinarun walaa dirhamun, inkaana lahu amalun shalih akhadza minhu biqadri madzhlamatihi wa inlam takun hasanaat,akhadza min sayyiati shahibihi fahamala alaih; Barangsiapa memiliki kezaliman yang diperuntukkan bagi saudaranya yang menimpa hartanya atau sesuatu yang lain, maka hendaknya dia memulangkan apa yang menjadi haknya itu pada hari itu sebelum datang saat hari dimana tiada lagi manfaat dinar ataupun dirham (harta), jika ada padanya amal shalih, maka nilai pahala dari amal shalih itu akan dipindahkan ke diri orang dizaliminya sesuai kadar kezalimannya, dan jika dirinya tidak lagi memiliki kebaikan, maka dosa orang yang terzalimi itu akan diambilnya dan ditimpakan padanya menjadi beban dosa yang dipikulnya di akhirat kelak.

Keempat: Hendaknya dia berangkat untuk haji atau umroh dari nafkah yang baik dan dari harta yang halal. Hal ini didasari oleh hadits dari Abu Hurairah RA, yang dikeluarkan oleh Muslim dalam shahihnya; Rasulullah saw bersabda: Innallaha Taala Thayyibun la yaqbalu illa thayyiban, wa iinallaha amaral mukminina bima amara bihil mursaliin, faqaala taalaa: Ya ayyuhalladziina aamanuu kuluu min thayyibaati maa razaqnaakum, tsumma dzakara ar-rajula yuthiilu as-safara asyatsa aghbara yamuddu yadaihi ilas-samaa: Ya Robb, Ya Robb, wamathamuhu haraam, wa masyrabuhu haraam, wa malbasuhu haraam, wa ghudz-dziya bilharaam, faannaa yustajaabu lah ;  Sesungguhnya Allah SWT adalah baik dan tidak menerima kecuali hal yang baik pula, dan sesungguhnya Allah menyuruh orang-orang yang beriman sebagaimana Ia menyuruh para rasul:Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa yang telah Aku rizkikan padamu, kemudian Rasulullah teringat oleh kisah seorang lelaki, yang memanjangkan safarnya (perjalanannya) yang dengan keadaannya yang lusuh dan kumal, lalu dia tengadahkan tangannya ke langit seraya menyebut:Ya Rabbi, Ya Rabbi, sedangkan makanan yang dikonsumsinya adalah makanan yang haram, dan minuman yang diteguknya adalah minuman yang haram, dan dia makan dari hasil dan cara yang haram, bagaimana mungkin doanya akan terkabulkan?.

Kelima: Hendaknya orang yang berhaji, sedapat mungkin menghindari diri dari perangai meminta-minta dan meminta belas kasihan orang lain. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda: Waman yastafif yauffuhu affahullahu, waman yastaghni yughnihillahu, waman yatashobbar, yushabbirhullahu; Barangsiapa yang (berniat) memohon belaskasih orang lain, namun dia menahan diri dari berbuat itu, Allah akan mengasihinya, barangsiapa yang memohon kecukupan, Allah akan mencukupinya, barangsiapa yang sabar, maka Allah akan memberinya kekuatan untuk bersabar.

Keenam: Menjadi kewajiban untuk meluruskan niat haji dan umroh semata-mata karena Allah swt dan untuk bekal menuju akhirat kelak serta untuk mendekatkan diri pada Sang Khaliq dengan menyebut-nyebut keagunganNya dalam wujud perkataan dan perbuatan (amal ibadah) di tempat-tempat yang telah menjadi anjurannya secara syari (al-Mawadhiu al-Syarifah).

Sebagaimana Allah swt berfirman: Man kaana yuriidul hayaatad dunyaa wa ziinataha, nuwaffi ilaihim amaalahum fiiha wahum fiiha laa yubkhasuun. Ulaaikalladziina laisa lahum fil aakhirati illannaaru wa habitha maa shanauu fiiha wa baathilun maa kaanuu yamaluun; Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (QS.Huud:15 -16).

Ketujuh: Sebaiknya orang yang berhaji ditemani oleh orang-orang pilihan, dalam artian: orang yang taat beribadah, bertakwa, dan yang lebih penting lagi, menguasai ilmu agama. Dan hendaknya menghindari bertemankan orang-orang yang bodoh, suka berbuat fasik dan ahlul bidah (melakukan rangkaian ibadah diluar ketentuan syariat). Sebagaimana Allah swt berfirman: Al Akhillaau yawmaidzin badhuhum libadhin aduwwun illal muttaqiin; Teman-teman akrab pada hari itu (kiamat) menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa (QS.Az-Zukhruf:67).

Kedelapan: Sebaiknya mempersiapkan diri dengan kapasitas ilmu yang memadai, terkhusus pengetahuan tentang tata cara haji dan umroh. Sebagaimana Allah swt berfirman:Qul hal yastawilladziina yalamuuna walladiina laa yalamuun; Katakanlah apakah sama (kedudukan) mereka yang mengerti dan mereka yang tidak mengerti(QS.Az-Zumar:9) Fasaluu ahladz-dzikri inkuntum laa talamuun; Maka bertanyalah pada ahlu dzikri (orang yang lebih tahu dan punya kapasitas ilmu) jika kamu sekalian tidak mengetahui (akan suatu hal).

Kesembilan: Hendaknya memperbanyak zikir dan doa ketika dalam perjalanan. Manfaatkan momen perjalanan haji, baik pergi ataupun pulang dengan senantiasa berzikir dan berdoa. Karena salah satu waktu terbaik terkabulkannya doa adalah manakala doa itu dipanjatkan

saat melakukan safar (perjalanan dalam rangka untuk tujuan yang baik bukan maksiat). Sebagaimana firmanNya dalam QS.Al-Ankabut:45 : Waladzikrullaha akbar; Dan berzikirlah, sesungguhnya zikir hamba kepada Tuhannya adalah lebih baik dari segala sesuatu. Fadzkuruuni adzkurkum ; Dan berzikirlah padaKu, niscaya Aku (Allah) akan selalu mengingatmu (QS.Al-Baqarah:152). Ya ayyuhalladziina aamanudzkurullaha dzikran katsiran, wa sabbihuuhu bukratan wa ashiilaa; Wahai orang-orang yang beriman, perbanyaklah berzikir, dan dan bertasbihlah disaat pagi maupun petang(QS.Al-Ahzab:41-42). Adapun zikir yang utama, yang senantiasa rasulullah saw ucapkan, sebagaimana hadits dari Abi Hurairah: Kalimataani khafiifataani alal-lisaan, tsaqiilataani fil miizan, habiibataani ilar-Rahman: Subhanallahu wabihamdih, Subhanallahul adzhiim; Dua kalimat yang ringan di lidah, namun berat dalam timbangan amalan kebaikan (mizan), dan yang paling disukai oleh Yang Maha Pengasih: Subhanallahu wabihamdih, Subhanallahul Adzhim.

Kesepuluh: Hendaknya ketika di Masjid Al-Haram dan Masjid Nabawi, memperbanyak ibadah, karena berbagai riwayat hadits dikatakan, kebaikannya sepuluh ribu hingga seratus ribu kali lipat daripada shalat di masjid lainnya.

Kesebelas: Hendaknya menjaga lisan dari mengucapkan kata-kata yang tidak bermanfaat dan saling bantah membantah dengan jamaah haji lainnya. Sebagaimana Allah swt berfirman: Al hajju asyhurun maluumat, faman faradha fihinnal hajja falaa rafatsa walaa fusuuqa walaa jidaala filhajj, wamaa tafaluu min khairin yalamhullahu, wa tazawwaduu fa inna khairiz-zaadit-taqwa wat-taquuni ya Ulil al-Baab; (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi (Syawwal, Dzulqadah, dan Dzulhijjah), barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan haji itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (mengeluarkan perkataan yang tidak senonoh atau bersetubuh), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan Bertakwalah kepadaKu hai orang-orang yang berakal(QS.Al-Baqarah:197).

Demikianlah sebelas bekal utama, yang semoga bermanfaat bagi calon-calon haji yang hendak menunaikan rukun kelima dari rukun Islam yang lima. Semoga ibadah haji & umrah di Baitullah Al-Haram, mendapat keridhaan di sisiNya, dan dimudahkan jalannya, dan diampuni segala dosa-dosanya, sehingga kelak ketika pulang kembali ke tanah air, tampak perangai mereka yang lebih baik dari sebelumnya, ringan tangannya untuk bersedekah, besar kesabarannya dalam mengarungi lika-liku kehidupan yang penuh aral melintang dan cobaan, serta kepeduliannya terhadap nasib kaum miskin dan anak yatim yang selama ini terpinggirkan semakin intensif dan melejit. Dan perangai-perangai itulah sebagai bukti bahwa mereka para hujjaj mendapatkan kenikmatan dari hajinya berupa hajjan mabruran wa tijaratan lan tabuura; yaitu haji yang mabrur dan perniagaan yang tidak pernah merugi. Amiin Ya Robbal Aalamiin. Allahu Alam bish-shawwab.